Kamis, 30 Agustus 2012

Froggy Went A - Courting



Frog went a courtin' and he did ride, uh-huh
Frog went a courtin' and he did ride, uh-huh
Frog went a courtin' and he did ride
With a sword and a pistol by his side, uh-huh uh-huh uh-huh


He rode right up to Miss Mousie's door, uh-huh
He rode right up to Miss Mousie's door, uh-huh
He rode right up to Miss Mousie's door
Gave three loud raps, and a very big roar, uh-huh uh-huh uh-huh


Took Miss Mousie on his knee, uh-huh
Took Miss Mousie on his knee, uh-huh
Took Miss Mousie on his knee,
Ask Miss Mousie, will you marry me, uh-huh, uh-huh, uh-huh


Without my Uncle Rat's consent, uh-huh
Without my Uncle Rat's consent, uh-huh
Without my Uncle Rat's consent,
I wouldn't marry the President, uh-huh, uh-huh, uh-huh


Uncle Rat went running downtown, uh-huh
Uncle Rat went running downtown, uh-huh
Uncle Rat went running downtown
To buy his niece a wedding gown, uh-huh, uh-huh, uh-huh




Note : Lagu anak anak ini saya suka banget :D ternyata kodok pun bisa menikahi tikus 

Rabu, 25 Juli 2012

SELINGKUH

Gerakannya cenderung selingkuh
Tatapannya jelas selingkuh
Cara bicaranya juga selingkuh
Tapi kenapa sikapnya bisa menutupi selingkuhnya?




Duduknya pasrah
Bicaranya pelan
Tatapannya melembut
Tapi ia tidak mesra, tidak intim, tidak mendekat
Ia selingkuh?






Kenapa seperti sudah pasangan tapi bukan sepasang
Kenapa terlihat seperti punya bahasa sendiri tapi tidak bicara
Kenapa terlihat berjauhan tapi sebenarnya sangat ingin berdekatan
Selingkuh?




Note : Bandung, Mei 2004

Bad Blood - 8 -


Hampir lewat tengah malam ketika Nenek Rubiah datang. Belum pernah ia menentang keluarganya seperti kali ini katanya. Memang terlihat sekali betapa lugu dan polosnya Nenek Rubiah. Ia kami tinggal kan berdua saja dengan Nenek buyut dikamar. Lama juga mereka bicara hampir satu jam an lebih.

Lalu kami dipanggil semua kedalam kamar.

“Aku minta ma’af” Itu kalimat terakhir nenek buyut.

Ia, akhirnya meninggal. Semua orang menangisinya. Lihat Nek, bahkan dengan tabiat burukmu pun keluargamu pun masih menangisi kepergianmu, bisikku perlahan ditelinganya.



Tiga hari setelah memakamkannya, aku dan Ibu memutuskan pulang.  Untuk terakhir kali nya Kakek memintaku menemaninya ke ladang.

“Tinggalkan darah hitammu disini Da” Katanya tiba tiba

“Kakek  sudah lama tahu, sejak pertama kali kau menginjakkan kaki kerumah ini. Tapi kamu anak yang baik. Maka Kakek minta, tinggalkan darah hitam mu disini” Pinta nya lagi. Apa kakek akan membunuhku?

“Sebelum kamu tahu tentang darah hitam, pernahkah kamu merasa diri sebagai orang yang jahat?” tanyanya padaku menatap lurus lurus.

“Tapi aku sering menyakiti orang lain Kek”

“Kamu senang menyakiti orang lain?”

“Kalau orang itu membuatku marah atau sakit hati, iya”

“Tapi tidak pada orang orang yang tidak ada salah padamu kan?”

“Tidak kek”

“Da, kakek tau sulit bagimu untuk mengendalikan pikiranmu. Kakek juga tau kalau kau sulit memaafkan. Demi kebaikanmu sendiri cobalah untuk banyak bersabar. Kau tidak ingin nantinya seperti Nenek buyutmu kan?”

“Selalu kau ingat ingat Da, Alloh tau semua apa yang kau lakukan pasti akan mendapat ganjarannya.”

“Tapi Kek, itukan bukan inginku. Aku sulit menahan diri”

“Kakek tau Da, makanya Kakek minta kau menahan diri nak”

“Kenapa aku harus terlahir jahat kek?”

“Aida, kau ingat kan manusia lain juga punya sifat jahat. Punya pikiran jahat. Ini Cuma bagaimana kamu mengendalikan dirimu Da”

“Darah hitam, anggaplah hanya sebagai cerita saja Da. Ini supaya kamu lebih ringan melangkah.Tapi kau harus tetap bersabar, menahan diri, mema’afkan orang lain”

“Jangan kau pendam sendiri kalau ada masalah, bicarakanlah. Kakek yakin kau pasti bisa Aida. Jalanmu masih panjang” Katanya sambil tersenyum

Dalam hati aku ragu ragu, aku serba tidak sempurna. Mampukah aku menahan amarahku kelak.

“Pasti bisa Aida” Kata Kakek menyemangatiku



Dalam perjalanan pulang ke Jakarta, Ibu bilang padaku

“Kelak jika ada yang menyusahkan hatimu, bilang pada Ibu. Ibu akan membantu. Ibu tahu kau anak yang baik. Ingat Aida, kalau kita selalu berbuat baik maka kebaikan pula yang akan datang pada kita” Katanya sambil memandangku penuh sayang. Aku mengangguk, tak ingin membuat Ibu yang ku sayangi cemas.

Keyakinan diriku bertambah, aku yakin aku akan jadi baik. Darah hitam tinggal cerita. Biarlah itu berhenti pada Nenek buyut saja. Aku sudah memutuskan siang itu dengan Kakek, berhenti sudah darah hitam ini mengalir.



Note : Abeeeeeeeeees...gantung yaaaak? Intinya sih Aida nya baik baik aja inget guys... orang baik akan dapet jalan yang baik juga...kalaupun diawal banyak kerikil tapi nanti ditujuan pasti hasilnya juga baik :D

Bad Blood - 7 -


Malam itu kami tidak ada yang tidur, Kakek dan Kakek Masri berjaga disamping tempat tidur Nenek Buyut. Aku, Ibu dan Nenek duduk di ruang tamu.  Setiap kami pikir sudah waktunya ia “pergi” nafasnya akan kembali teratur. Meracau ini itu tiada henti.

“Benar kalau kakak kakak Kakek dibunuh?” Tanya ku ngeri

“Nenek tidak tahu Da, kejadiannya waktu Kakek mu dan Kakek Masri masih kecil. 

Kebakaran itu api darimana penyebabnya tidak ada yang pernah tahu.” Jawab Nenek.

Kakek mendekat.

“Yang sudah lewat biarkan kan lah Da, tidak baik di ungkit kembali.” Katanya bijak.

“Apa benar kalau orang kampung tau aku juga akan dibunuh?” Tanyaku takut takut.

“Kau percaya kalau orang bisa membunuh orang lain hanya karena prasangka?”  Jawabnya sambil tersenyum

Belum sempat Kakek meneruskan bicaranya Kakek Masri mendekat.

“Abang, aku disuruh ibu ke rumah Rubiah. Ibu ingin bertemu dengan Rubiah. Aida kau disuruhnya menemani dikamar” Kata Kakek Masri

“Buat apa?” Tanya Ibu galak.

“Hanya ingin bicara Dahlia, dia janji padaku tadi tidak akan bicara yang bukan bukan.” Kata Kakek Masri menerangkan.

“Kau ingin ditemani ke rumah Rubiah?” Tanya Nenek pada Kakek Masri

“Iya kak, temani aku. Entah bagaimana tanggapan keluarga Rubiah. Aku terlalu malu untuk datang menemuinya seorang diri” Kata Kakek Masri tak berdaya.

“Aida, Ibu akan menunggumu dimuka pintu. Andai Ibu dengar bicaranya melantur kau langsung Ibu tarik keluar” Tegas Ibu, agak mengancam. Aku hanya mengangguk.

Masih menunduk aku duduk disamping tempat tidurnya.

“Masih kau pikirkan apa yang aku ucapkan? Aku tahu sulit bagimu untuk memagari pikiranmu dari niat jahat. Kakek buyutmu dulu selalu mengawasiku dan ketiga putriku, supaya kami tidak membuat masalah. Aku hanya tingkah laku ku yang buruk, tapi kau tidak akan ada yang bisa mengawasi pikiranmu. Bahkan tidak juga Ibu mu.

Itu sebabnya kau harus hati hati, Begitu orang lain tahu kau yang akan disalahkan bukan penjara bagimu tapi kau akan dibunuh. Karena orang orang akan lebih takut pada apa yang mereka tak bisa lihat Da” Kata nya perlahan, aku diam menimbang.

“Aku bisa lihat kau bingung, kau darah hitam tapi kau juga punya sifat sifat baik keturunan suamiku.Kau pasti bisa. Kau akan baik baik saja.” Ia mulai tampak lelah.

“Kau tau kenapa aku selalu merasa marah pada Rubiah?” tanyanya, aku menggeleng.

“Pernah kau temui orang begitu lugu dan polos? Rubiah itu juga bodoh sekali. Nenek mu bisa kuberi tahu tapi Rubiah susah sekali” Katanya, nadanya tidak geram sama sekali.

“Bukan alasan untuk menghajarnya kan?” Tanyaku takut takut.

“Kau tidak tahu rasanya bagaimana darahku mendidih tiap kali bicara padanya. Benar, kebodohannya bukan alasan untuk bisa seenaknya mengahajarnya. Tapi aku tidak bisa menahan diri”

Setidaknya aku lebih baik, tidak sembarangan menghajar orang lain. Salah Aida, bisik hati kecilku tidak ada yang benar ketika itu berarti menyakiti orang lain.

“Kau tahu? Umurku tidak akan lama lagi. Itu sebabnya aku minta si Masri menjemput Rubiah. Aku tidak ingin masuk neraka juga, aku akan minta ma’af pada Rubiah. Semoga ia masih mau mema’afkanku dan kembali pada Masri.”

“sedih rasanya melihatnya seorang diri sampai tua begitu”

Ternyata ia masih takut masuk neraka.


Bad Blood - 6 -


“Jangan percaya apapun yang Nenek buyut bilang! Itu hanya isapan jempol Da! KAMU SAMA SEKALI TIDAK BERDARAH HITAM!” Ibu dengan nada marah menegaskan padaku.

“Bagaimana kalau benar Bu? Kalau aku lebih Hitam dari semua?” Rengekku sambil terus menangis

“Apa Ibu akan membenciku?”

“Tidak, Ibu tidak akan pernah bisa membencimu Da. Kamu tidak akan pernah menjadi seperti yang Nenek buyut bilang, Kamu anak yang baik. Percaya Ibu” Matanya bersungguh sungguh tangannya mencengkeram kedua pundakku.

Tapi Ibu tidak tahu kan kalau aku sudah hitam sejak kecil, hampir aku bilang begitu pada Ibu. Aku tidak pernah iri atau dengki, aku hanya akan marah jika diganggu. Pikiran jahatku timbul hanya saat aku diganggu.

“Besok kita pulang” Kata Ibu tiba tiba sambil mengeluarkan pakaian kami dari lemari.

“Ada apa ini Dahlia?” Kata Kakek yang tiba tiba masuk ke kamar. Kebingungan.

“Nenek buyut nya Aida meracau, dia bilang macam macam tentang Aida. Anak ini ketakutan Ayah. Besok kami akan kembali ke kota” Terang Ibu sambil terus mengeluarkan baju baju kami tanpa memperhatikan Kakek.

“Aidaaaa!!!!!” Teriak suara parau dari kamar depan.

“Jangan pergi! Kamu hanya akan dibuatnya menangis lagi” Ibu memelototiku.

Aku terdiam, patuh.

“Sembunyikan Aida! Sembunyikan Hitam mu, jangan biarkan orang lain selain keluarga kita tahu. Mereka akan membunuhmu seperti mereka membunuh ketiga anakku!!!” Masih berteriak teriak, perempuan serenta itu tapi suaranya keras sekali.

Lalu senyap, saat itu Kakek terburu buru keluar kamar menuju kamar Ibunya. Aku mengikuti dari belakang.

“Hamdan, sudah bisa mati dengan tenang aku sekarang. Sudah ada penggantiku disini” Pandangannya melembut pada anak lelakinya.

Kakek memegang tangan Nenek buyut, membisikinya sesuatu. Nenek buyut diam, matanya masih terbuka tarikan nafasnya masih teratur, lama lama semakin jarang.

Selasa, 24 Juli 2012

Bad Blood - 5 -

Semoga mereka meninggal bukan karena Nenek buyut, tidak mungkin kan seorang Ibu membunuh ketiga anaknya sekaligus.


Malam nya menjelang tidur.


"Da, kamu baik baik saja kan?" tanya Ibu tiba tiba.


"Iya, kenapa bu?" Tanyaku bingung


"Kamu... Ah sudahlah" Katanya lalu menarik selimut. Apa yang mau ditanyakan Ibu ya?


*******


Siang itu lagi lagi Nenek menyuruhku membawakan nampan ke kamar Nenek buyut. Sedapat mungkin biasanya aku menghindar, tapi kali ini tak mungkin lagi. Masih teringat jelas seringainya waktu itu.


"Mau dipanggilkan Ibu untuk menyuapi?" Tanyaku pada Nenek buyut


"Tidak usah, kamu saja" Katanya membuatku lemas. 


Ingin cepat cepat selesai menyuapinya tapi makannya lambat sekali. 


"Ibu mu bilang padamu rupanya." Katanya sambil terkekeh


"Bilang apa?" 


"Bahwa kau darah hitam, lebih hitam dari aku malah" seringainya 


"Aku tau sejak pertama kali memandangmu, dari pandangan matamu kau lebih hitam dari ketiga anakku yang mati itu. Bahkan lebih hitam dari Ibu dan nenek ku" Kata katanya menusuk hatiku, aku tak sanggup lagi, aku menangis.


"Jangan menangis, Itu bukan hal yang buruk seperti ibu mu bilang. Ibu mu juga menangis waktu ku bilang kau lah yang paling hitam." Katanya lagi. Pantas ibu aneh sekali malam itu.


"Apa salahnya jadi hitam? itu karunia, kau punya pertahanan diri tidak seperti Ibumu yang dari lahir lemah seperti Ibunya" Mulut tuanya terus berbicara, aku sesenggukan.


"Kupikir akan habis keluargaku, Tak ada lagi darah hitam yang mengalir. Tapi ternyata cucu buyutku lebih hebat dari semua" Suaranya penuh kebanggaan seolah olah aku pahlawan.


Saat itu Ibu menerobos masuk ke kamar


"Jangan ceritakan hal hal bodoh pada Aida, jangan pengaruhi pikirannya!" Teriak Ibu sambil menarikku keluar kamar. Dari sela sela air mataku bisa kulihat lagi senyum nya. Senyum yang aneh.



Bad Blood - 4 -

Tak lama kemudian kami tiba dipemakaman. jangan dibayangkan seperti pemakaman dikota besar seperti tempat Ayah dikuburkan. Pemakaman di desa ini meski tidak bisa dibilang rapih tapi juga tidak terlalu semrawut, dikelilingi rumpun bambu yang tinggi membuat suasana kuburannya terasa sekali. Semua kuburan tanpa nisan nama, hanya onggokan batu besar. Tapi Ibu masih ingat satu persatu kuburan keluarganya. Kami tidak tinggal lama, setelah membersihkan kuburan keluarga dan mengirimkan do'a kami pun pulang.

Sepanjang jalan pulang aku tidak banyak bicara. Aku terus berpikir, aku takut, aku juga keturunan darah hitam. Aku takut suatu hari nanti aku juga akan berubah jadi jahat sepenuhnya. 

Satu hal yang Ibu tidak tau, aku juga pembenci. Meski tidak pernah bertengkar dengan orang lain atau memusuhi terang terangan tapi aku seringkali memikirkan hal yang jahat. Setiap kali ada orang yang menyakiti hatiku atau membuatku marah, aku langsung memikirkan hal hal buruk agar menimpa orang itu. 

Orang orang selalu berpendapat bahwa aku adalah anak perempuan yang manis, baik, santun dan pendiam. Orang orang tidak tau kalau pikiranku tentang hal jahat itu selalu jadi kenyataan. 

Pernah suatu ketika Ibu dimaki maki seorang perempuan yang menuduh Ibu merebut suaminya. Karena marah tubuhku bergetar hebat, dalam hati aku mengutuk perempuan itu. Tak lama kami mendapat kabar, sepulang dari rumah kami perempuan itu tertabrak motor. 

Hal hal seperti ini seringkali terjadi sejak aku masih kecil. Aku selalu berharap kalau itu hanya kebetulan semata, bukan karena pikiran jahatku. Tapi dalam hatiku, aku puas orang yang kubenci mengalami hal yang buruk.

Aku jadi sering memperhatikan nenek buyut. Apa dia mengalami apa yang kualami? pikiran pikiran buruk, kecelakaan kecelakaan pada orang orang yang dibenci?

Tampaknya tidak, tidak ada cerita Ibu tentang itu. Hanya perangainya saja yang buruk.

"Aida, antarkan nampan makan siang Nenek buyutmu" perintah nenek sambil menyorongkan nampan.

Aku patuh, membawa nampan masuk ke kamar berpintu hitam itu. Mata tuanya mengawasiku.Aku jadi salah tingkah. Aku hampir yakin melihat ujung ujung bibirnya mengedut membuat senyuman saat sekilas meliriknya. Senyum yang mengerikan. Bukan hanya karena sudah tak ada lagi gigi dimulutnya, tapi senyumnya seolah penuh rasa puas.

"Makan malam Nek" Kataku sambil menaruh nampan di meja samping tempat tidurnya.

"Panggil ibu mu untuk menyuapiku" Perintahnya. Aku berlalu memanggil Ibu

"Nek, siapa yang biasa menyuapi Nenek buyut?" Tanyaku pada Nenek saat aku kembali ke dapur.

"Kakek dan kakek Masri mu" Jawab Nenek.

"Kalau nenek? tidak pernah?" Tanyaku

"Kalau ada yang hendak ia bicarakan biasanya begitu" Jawab Nenek masih terus merajang sayur.

"Biasanya bicara apa?" Aku main mainkan air di baskom tempat nenek mencuci sayur

"Urusan rumah tangga, hasil panen, hal hal semacam itulah." Nenek memandangku heran

"Hanya ingin tau saja" Jawabku tersenyum.

"Mungkin badannya sudah susah bergerak, tapi ingatannya masih bagus."

"Benar umurnya 100 tahun nek?"

"Tidak pernah ada yang tau pasti tapi kira kira nya begitu. Kakekmu itu anak ke 4 nya usianya sudah 82 tahun meski masih terlihat gagah begitu" Terang nenek

"Kemana kakak kakak kakek nek?" 

"Meninggal sewaktu kecil. Rumah ini pernah kebakaran hebat dulu, ketiga kakak kakek mu tidak bisa diselamatkan"


Nenek tampak sudah tidak mau meneruskan pembicaraan lagi, akhirnya aku keluar dari dapur.